Saturday, March 9, 2013

Penyakit Baru Yang Mirip AIDS



illustrasi
SEBUAH penelitian di Amerika menunjukkan ada satu penyakit baru yang muncul sejak 2004 lalu. Penyakit ini telah menjangkiti beberapa orang di Amerika dan Asia. Anehnya, si penyakit memiliki gejala mirip AIDS.

Meski bergejala seperti AIDS, namun dokter dan peneliti tak yakin jika penyakit ini berawal dari HIV. Alasannya, pertama, penyakit ini tak pindah antarmanusia melalui virus layaknya HIV. Kedua, virus HIV secara spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh dan sangat cepat membunuh sel T.

"Namun penyakit ini tak melakukan itu," tulis Gwinnett Daily Online, Senin, 27 Agustus 2012. Penyakit mirip AIDS ini memang tak langsung menyerang sistem kekebalan tubuh.

Tapi lambat laun, si pengidap bakal mengalami kerusakan pada sistem kekebalan tubuhnya. Akibatnya, mereka tak lagi dapat menangkis infeksi yang masuk ke tubuh. Tidak seperti orang sehat pada umumnya.


"Penyakit ini adalah jenis lain dari Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Terjadi pada orang dewasa dan tidak menurun."

Menurut peneliti, ukuran orang dewasa yang dapat mengidap penyakit ini adalah mereka yang berusia di atas 50 tahun. Dan, berdasarkan riwayat kesehatan, biasanya penyakit ini hanya dialami satu orang dalam sebuah keluarga. Tak ada penularan atau
penurunan penyakit dalam keluarga si pasien.

Selama ini, sebagian besar pasien pengidap infeksi ini hidup di Asia. Namun berapa jumlah mereka yang mengidap karenanya, belum bisa diketahui. Sebab pasien yang meninggal itu kerap dikaitkan dengan pelbagai penyakit.

Pada 2009, seorang perempuan Vietnam yang telah menetap di Tennessee, Amerika, sejak 1975, pulang ke kampung halamannya di 1995. Sekitar pertengahan 2009, ia mengalami demam berkesinambungan serta infeksi. Ketika itu umurnya 62 tahun.

Dalam waktu singkat, infeksi itu menyerang tulangnya dan menimbulkan banyak gejala aneh. Berat badannya pun turun drastis. Dari 45 kilogram menjadi 31 kilogram.

Hingga kini, peneliti dan dokter belum mengetahui penyebab infeksi itu. Mereka masih mempelajarinya. Meski demikian, para peneliti yakin bila banyak pasien yang telah mengalami kasus ini. Hanya saja, tak banyak dokter yang menyadarinya. (sumber)